Selasa, 10 September 2013

BANGSA KALASH




Nama
Kalash
Populasi
5.000 (di Afganistan dan Pakistan)
Lokasi
Distrik Chitral of Khyber-Pakhtunkhwa Province (Pakistan)


Nouristan Province (Afganistan)
Bahasa
:
Kalasha
Klasifikasi
Indo European, Indo Iranian, Indo-Aryan
Dialek
Northern Kalasha (Birir, Bumboret, Rumbur)


Southern Kalasha (Urtsun)
Tulisan
:
Arabic Script
Agama
:
Politeisme, Islam



Keterangan
:
Mayoritas masyarakat Kalash mengakui bahwa mereka adalah keturunan tentara-tentara Alexander Agung yang tertinggal di Pegunungan Hindu Kush. Menurut legenda kuno, ada 5 tentara Macedonia dari Alexander yang menetap di Chitral dan merupakan leluhur dari Bangsa Kalash.
Berlokasi di Khyber-Pakhtunkhwa, masyarakat Kalash menetap/tinggal di       3 lembah pegunungan yang terisolasi yaitu :
1.      Lembah Bumburet dan Lembah Rumbur, yang bertemu pada koordinat 35°44′20″N 71°43′40″E / 35.73889°N 71.72778°E (1640 m),  
2.      Lembah Kunar, di Desa Ayrun (35°42′52″N 71°46′40″E / 35.71444°N 71.77778°E, 1400 m) dan berhubungan dengan Provinsi Nuristandi Afganistan berjarak 4.500 m.
3.      Lembah Birir yang terbuka, menuju Lembah Kunar, di Desa Gabhirat (35°40′8″N 71°45′15″E / 35.66889°N 71.75417°E, 1360 m). Merupakan suatu terusan menghubungkan Lembah Birir and Lembah Bumburet sejauh 3.000 m.
Desa-desa masyarakat Kalash berada di ketinggian 1.900 hingga 2.200 mdpl.
Masyarakat Kalash memiliki warna rambut yang terang, kulit terang, rambut pirang, and pupil mata hijau atau coklat muda, menyerupai Suku Pashtuns and Persians/Fars. Suku Kalash mempunyai 4 festival utama setiap tahun, yaitu :Joshi (dirayakan pada akhir bulan Mei, untuk menyambut musim semi); Uchau (dirayakan pada akhir bulan Agustus, untuk memohon panen yang berlimpah); Pul/Poh (dirayakan pada bulan September, hanya di Lembah Birir); Chawmos (dirayakan pada bulan Desember selama lebih dari 2 minggu). Chawmos adalah festival adat terbesar Kaum Kalash, yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Masehi.
                                                                                            
 Agama Suku Kalash menyerupai agama yang dipraktekkan Bangsa Arya Rigveda (Rigvedic Aryans), yang menyembah dewa-dewa, di antaranya :  Indra (Varendr), Munjem Malik, Jestak, Dezalik, dan Dezau. Adapun penjelasan tentang beberapa dewa dari Bangsa Kalash dapat dilihat sebagai berikut :
  1. Indra. Nama “Indra” muncul dalam berbagai bentuk, seperti “Sajigor”, “Warendr”. Disebut sebagai Yang Maha Kuasa dan Yang Paling Ditakuti. Penyembahan kepada Dewa Indra diajarkan oleh Balumain (Balimain), seorang pahlawan dari legenda kuno Kalash. Balumain mengajarkan juga untuk menyelenggarakan Chaumos (festival musim dingin Kalash).
  2. Munjem Malik. Kata “munjem” berasal dari  kata “madhyama” yang berarti “tengah”. Kata “malik” berasal dari Bahasa Arab yang artinya “raja”. Munjem Malik berarti “Raja Bumi Tengah (The Lord of Middle Earth)
  3. Jestak. Kata”jestak” berasal dari kata “jyestha” atau “destri”. Dewi kehidupan sehari-hari, dewi keluarga dan perkawinan. Tempat persembahyangan kepada sang dewi disebut Jestak Han.
  4. Dezalik. Kata “dezalik” diambil dari “dizalik”. Saudara perempuan Dezau. Dewi kelahiran anak, Dewi Hati dan Kekuatan Kebenaran (Life Force). Dezalik melindungi anak-anak dan kaum wanita. Dewi ini serupa dengan nama Dewi “Kafiri Nirmali” atau “Nirmalika” dari Indo-Iranian.
  5. Dezau. Dewa Pencipta Alam. Berasal dari kata “dheigh” atau “Khodai” (Indo-European dan Persia). Dezau ini diasosiasikan dengan Dewa Indra (nomor 1).

Agama Kalash menyerupai agama yang dianut Bangsa Rigvedic Aryans. Orang Kalash mempertahankan keseluruhan dari prinsip-prinsip agama Proto-Indo-Iranian (Indo-European), dengan adanya myths, ritual, perkumpulan kemasyarakatan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Rgvedic. Kebudayaan dan keyakinan agama Kalash berbeda dengan kebudayaan dan keyakinan dari kelompok-kelompok etnis di sekitar mereka, namun serupa dengan Kaum Nuristan di Afganistan timur laut. Kaum Kalash telah menerima pengaruh kuat dari keyakinan sebelum Islam dari Kaum Nuristan (pre-Islamic Nuristan). Sebelum beralih ke agama Islam, Kaum Nuristan menganut bentuk Hinduisme, yang dipadukan dengan keyakinan lokal. Beberapa nama Persia masih dipergunakan, seperti Apsara untuk peri, dan Varoti, rekan dari peri. Menurut kepercayaan Kalash, Peri dan Varoti menempati TirichMir, suatu pegunungan tinggi. Ada pula kepercayaan tentang Jach, suatu roh wanita yang menempati tanah, dataran, atau pegunungan tertentu. Penyembahan kepada dewa-dewa Kalash dilakukan di sepanjang lembah-lembah, dengan pengorbanan kambing.
Kaum Kalash menempati Indra sebagai penguasa utama atau disebut pula Penguasa Surga (Father of Heaven).  Disebut pula Indr atau Varendr. Pengaruh Islam terhadap Kalash mulai tampak dimana Kaum Kalash menyebut nama Tuhan dengan istilah Khodai (dalam bahasa Pashto) yang artinya God.
Beberapa ahli berspekulasi bahwa Orang Kalash adalah keturunan langsung dari tentara-tentara pendatang Macedonia – Yunani dari masa Alexander Agung atau bahkan keturunan Alexander sendiri. Beberapa pakar antropologi Bulgaria mengklaim bahwa Kalash mempunyai darah keturunan Bangsa Bulgaria. Dari jejak-jejak sejarah menyebutkan bahwa setelah invasi Alexander, muncullah pengaruh Helenistic (tahun 326 Sebelum Masehi hingga tahun 10 Masehi) semasa kejayaan Kekaisaran Seleucid, Greco-Bachtrian, dan Indo-Greek. Penelitian terhadap masyarakat Kalash menunjukkan bahwa orang Kalash memiliki sangat sedikit genetik Eropa atau Arya dan memiliki lebih banyak genetik yang

mandiri, yang tidak ditemukan di daerah lain manapun di dunia, hanya di Pakistan utara.
Bahasa Kaum Kalasha adalah Bahasa Dardic, suatu sub-cabang dari Indo-Iranian Group, merupakan bagian besar dari keluarga bahasa Indo-European. Bahasa Kalasha merupakan anggota The Chitral Sub-Group, satu-satunya anggota Grup Khowar. Kurang lebih 5.000 jiwa orang Kalash berbicara Kalasha.
Terdapat beberapa kontroversi tentang etnis Kalash. Pemimpin etnis Kalash, Saifulla Jan, menyatakan, “Jika ada orang Kalash yang pindah agama ke Islam, dia tidak dapat tinggal di antara kita lagi. Kami teguh menjaga identitas kami. Sekitar 3.000 jiwa beralih ke Islam atau keturunan dari yang beralih tersebut, namun masih tinggal di sekitar desa-desa Kalash dan mempertahankan bahasa mereka dan banyak aspek dari kebudayaan kuno mereka. Hingga kini, sheiks, atau beralih ke Islam telah membentuk separuh dari total populasi masyarakat yang mempergunakan Bahasa Kalasha. Wanita-wanita Kalasha biasanya mempergunakan jubah hitam panjang. Mereka dikenal di Chitral sebagai The Black Kafirs. Kaum pria mempergunakan jenis pakaian Pakistan Shalwar Kameez. Anak-anak mempergunakan jenis-jenis kecil dari pakaian dewasa, sesuai umur mereka.
Meskipun orang Kalash berbicara dalam Bahasa Kalasha, yang tergolong bahasa dari Indo-Iranian Languages, mereka tetap merupakan suatu suku/golongan yang unik dari Indo-Aryan. Beberapa anthropologists berpendapat bahwa mayoritas penduduk dari Gujarat dan Punjab tergolong Indo-Aryan, dengan bahasa mereka yang digolongkan sebagai Indo-Aryan Languages Speaking Groups. Mayoritas literature Bangsa Arya (The Aryans) ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan Pali (Sanskrit and Pali Language).