BANGSA KALASH
|
Nama
|
:
|
Kalash
|
|
Populasi
|
:
|
5.000 (di Afganistan dan Pakistan)
|
|
Lokasi
|
:
|
Distrik Chitral of Khyber-Pakhtunkhwa
Province (Pakistan)
|
|
|
|
Nouristan Province (Afganistan)
|
|
Bahasa
|
:
|
Kalasha
|
|
Klasifikasi
|
:
|
Indo European, Indo Iranian,
Indo-Aryan
|
|
Dialek
|
:
|
Northern Kalasha (Birir, Bumboret,
Rumbur)
|
|
|
|
Southern Kalasha (Urtsun)
|
|
Tulisan
|
:
|
Arabic Script
|
|
Agama
|
:
|
Politeisme, Islam
|
|
|
|
|
|
Keterangan
|
:
|
Mayoritas
masyarakat Kalash mengakui bahwa mereka adalah keturunan tentara-tentara
Alexander Agung yang tertinggal di Pegunungan Hindu Kush. Menurut legenda
kuno, ada 5 tentara Macedonia dari Alexander yang menetap di Chitral dan
merupakan leluhur dari Bangsa Kalash.
Berlokasi di Khyber-Pakhtunkhwa, masyarakat Kalash
menetap/tinggal di 3 lembah
pegunungan yang terisolasi yaitu :
1.
Lembah Bumburet dan Lembah Rumbur, yang bertemu
pada koordinat 35°44′20″N 71°43′40″E / 35.73889°N 71.72778°E (1640 m),
2.
Lembah
Kunar, di Desa Ayrun (35°42′52″N 71°46′40″E / 35.71444°N 71.77778°E, 1400 m) dan berhubungan dengan Provinsi Nuristandi
Afganistan berjarak 4.500 m.
3.
Lembah Birir
yang terbuka, menuju Lembah Kunar, di Desa Gabhirat (35°40′8″N 71°45′15″E / 35.66889°N 71.75417°E, 1360 m). Merupakan suatu terusan menghubungkan Lembah Birir
and Lembah Bumburet sejauh 3.000 m.
Desa-desa
masyarakat Kalash berada di ketinggian 1.900 hingga 2.200 mdpl.
Masyarakat
Kalash memiliki warna rambut yang terang, kulit terang, rambut pirang, and
pupil mata hijau atau coklat muda, menyerupai Suku Pashtuns and
Persians/Fars. Suku Kalash mempunyai 4 festival utama setiap tahun, yaitu
:Joshi (dirayakan pada akhir bulan Mei, untuk menyambut musim semi); Uchau
(dirayakan pada akhir bulan Agustus, untuk memohon panen yang berlimpah);
Pul/Poh (dirayakan pada bulan September, hanya di Lembah Birir); Chawmos
(dirayakan pada bulan Desember selama lebih dari 2 minggu). Chawmos adalah festival
adat terbesar Kaum Kalash, yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru
Masehi.
Agama Suku
Kalash menyerupai agama yang dipraktekkan Bangsa Arya Rigveda (Rigvedic Aryans), yang menyembah
dewa-dewa, di antaranya : Indra
(Varendr), Munjem Malik, Jestak, Dezalik, dan Dezau. Adapun penjelasan
tentang beberapa dewa dari Bangsa Kalash dapat dilihat sebagai berikut :
Agama Kalash
menyerupai agama yang dianut Bangsa Rigvedic
Aryans. Orang Kalash mempertahankan keseluruhan dari prinsip-prinsip
agama Proto-Indo-Iranian (Indo-European), dengan adanya myths, ritual, perkumpulan
kemasyarakatan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Rgvedic. Kebudayaan dan keyakinan agama Kalash berbeda dengan
kebudayaan dan keyakinan dari kelompok-kelompok etnis di sekitar mereka,
namun serupa dengan Kaum Nuristan di Afganistan timur laut. Kaum Kalash telah
menerima pengaruh kuat dari keyakinan sebelum Islam dari Kaum Nuristan (pre-Islamic Nuristan). Sebelum beralih
ke agama Islam, Kaum Nuristan menganut bentuk Hinduisme, yang dipadukan
dengan keyakinan lokal. Beberapa nama Persia masih dipergunakan, seperti
Apsara untuk peri, dan Varoti, rekan dari peri. Menurut kepercayaan Kalash,
Peri dan Varoti menempati TirichMir, suatu pegunungan tinggi. Ada pula
kepercayaan tentang Jach, suatu roh wanita yang menempati tanah, dataran,
atau pegunungan tertentu. Penyembahan kepada dewa-dewa Kalash dilakukan di
sepanjang lembah-lembah, dengan pengorbanan kambing.
Kaum Kalash
menempati Indra sebagai penguasa utama atau disebut pula Penguasa Surga (Father of Heaven). Disebut pula Indr atau Varendr. Pengaruh
Islam terhadap Kalash mulai tampak dimana Kaum Kalash menyebut nama Tuhan
dengan istilah Khodai (dalam bahasa
Pashto) yang artinya God.
Beberapa ahli
berspekulasi bahwa Orang Kalash adalah keturunan langsung dari
tentara-tentara pendatang Macedonia – Yunani dari masa Alexander Agung atau
bahkan keturunan Alexander sendiri. Beberapa pakar antropologi Bulgaria
mengklaim bahwa Kalash mempunyai darah keturunan Bangsa Bulgaria. Dari
jejak-jejak sejarah menyebutkan bahwa setelah invasi Alexander, muncullah
pengaruh Helenistic (tahun 326 Sebelum Masehi hingga tahun 10 Masehi) semasa
kejayaan Kekaisaran Seleucid,
Greco-Bachtrian, dan Indo-Greek. Penelitian terhadap masyarakat Kalash
menunjukkan bahwa orang Kalash memiliki sangat sedikit genetik Eropa atau
Arya dan memiliki lebih banyak genetik yang
Bahasa Kaum
Kalasha adalah Bahasa Dardic, suatu sub-cabang dari Indo-Iranian Group, merupakan bagian besar dari keluarga bahasa Indo-European. Bahasa Kalasha
merupakan anggota The Chitral Sub-Group,
satu-satunya anggota Grup Khowar. Kurang lebih 5.000 jiwa orang Kalash
berbicara Kalasha.
Terdapat
beberapa kontroversi tentang etnis Kalash. Pemimpin etnis Kalash, Saifulla
Jan, menyatakan, “Jika ada orang Kalash yang pindah agama ke Islam, dia tidak
dapat tinggal di antara kita lagi. Kami teguh menjaga identitas kami. Sekitar
3.000 jiwa beralih ke Islam atau keturunan dari yang beralih tersebut, namun
masih tinggal di sekitar desa-desa Kalash dan mempertahankan bahasa mereka
dan banyak aspek dari kebudayaan kuno mereka. Hingga kini, sheiks, atau beralih ke Islam telah
membentuk separuh dari total populasi masyarakat yang mempergunakan Bahasa
Kalasha. Wanita-wanita Kalasha biasanya mempergunakan jubah hitam panjang.
Mereka dikenal di Chitral sebagai The
Black Kafirs. Kaum pria mempergunakan jenis pakaian Pakistan Shalwar Kameez. Anak-anak
mempergunakan jenis-jenis kecil dari pakaian dewasa, sesuai umur mereka.
Meskipun orang
Kalash berbicara dalam Bahasa Kalasha, yang tergolong bahasa dari Indo-Iranian Languages, mereka tetap
merupakan suatu suku/golongan yang unik dari Indo-Aryan. Beberapa anthropologists
berpendapat bahwa mayoritas penduduk dari Gujarat dan Punjab tergolong Indo-Aryan, dengan bahasa mereka yang
digolongkan sebagai Indo-Aryan
Languages Speaking Groups. Mayoritas literature Bangsa Arya (The Aryans) ditulis dalam Bahasa
Sansekerta dan Pali (Sanskrit and Pali
Language).
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar